NEWS

Puskesmas Onembute, Terobos Batas Cakrawala Indonesia Timur
Bagi masyarakat kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan dan Surabaya, rumah sakit menjadi pilihan utama untuk melakukan tindakan kuratif terhadap masalah kesehatan. Namun bagi sebagian besar masyarakat yang tinggal di daerah terpencil di Indonesia, Puskesmas menjadi opsi utama dalam membantu mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan akses kesehatan dan biaya. Puskesmas Onembute yang terletak di Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan salah satu best practice pusat kesehatan masyarakat yang memaksimalkan perannya dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Salah satu pencapaian terbesar Puskesmas Onembute adalah menurunkan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

“Beberapa tahun yang lalu, angka kematian bayi di wilayah kerja Puskesmas Onembute mencapai 18 kasus. Pada saat itu memang proses kelahiran bayi didominasi oleh asistensi dari dukun bersalin karena mereka lebih didengar dan dipercaya oleh masyarakat setempat dibanding bidan desa. Keadaan semakin memburuk mengingat jalinan komunikasi antara dukun bersalin dan bidan desa sempat terhambat disebabkan kompetisi tidak langsung antara kedua belah pihak,” ujar Bapak Husen S.KM., M.Kes, Kepala Puskesmas Onembute.

Puskesmas Onembute, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara

Kompetisi antar profesi tersebut secara tidak langsung mempengaruhi kualitas layanan kesehatan. Titik puncak ketidakharmonisan antara dukun bersalin dan bidan desa muncul ketika kasus pendarahan hebat yang terjadi pada sebuah proses kelahiran yang ditangani dukun bersalin. Kasus tersebut menuntut kolaborasi diantara kedua pihak mengingat penanganan darurat merupakan solusi kunci dari pertolongan pertama bagi ibu melahirkan dan jabang bayi.

“Untuk mengeliminasi ketidakharmonisan, puskesmas menginisiasi kemitraan antar profesi sehingga seluruh kebutuhan layanan kesehatan dapat diakomodasi dan disinkronisasi. Hingga 2014 angka kematian bayi turun hingga 0 kejadian. Kami ingin puskesmas menjadi pusat layanan kesehatan primer untuk mewujudkan paradigma sehat yang sempurna,” tambah Bapak Husen.

Satu permasalahan terselesaikan namun ternyata saat Puskesmas Onembute mengalami kembali kasus kematian bayi sebanyak 3 kejadian. Di samping itu, mereka juga harus menghadapi permasalahan ibu hamil yang mengidap Kekurangan Energi Kronis (KEK) yang dapat mempengaruhi kesehatan bayi bahkan menyebabkan stunting. Kasus ini menggugah tim Pencerah Nusantara untuk membantu Puskesmas Onembute melakukan penanganan yang sistemis melalui program edukasi kesehatan yang komprehensif dan berkelanjutan.

Fasilitas kesehatan yang nyaman di Puskesmas Onembute 

“Setelah melalui observasi menyeluruh, kasus kematian bayi yang muncul kembali ternyata disebabkan oleh ‘Empat Terlambat’ atau yang disebut 4T, yaitu terlambat mengenal tanda bahaya, terlambat mengambil keputusan, terlambat mencapai fasilitas kesehatan, dan terlambat mendapatkan pertolongan di fasilitas kesehatan. Kepala Puskesmas Onembute sendiri sudah mengaplikasikan pendekatan ke masyarakat yang membuahkan sebuah terobosan dimana 100% persalinan dilakukan di fasilitas kesehatan. Untuk mendukung program unggulan ini, tim Pencerah Nusantara melakukan intervensi berupa edukasi kesehatan baik bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Onembute untuk meminimalisir masalah 2T lainnya, yaitu terlambat mencapai fasilitas kesehatan dan terlambat mendapatkan pertolongan di fasilitas kesehatan,” ujar dr. Cut Nyak Dian, tim dokter Pencerah Nusantara asal Aceh yang ditempatkan di Puskesmas Onembute.

“Kami sungguh tersentuh melihat kinerja tim Puskesmas Onembute yang penuh dedikasi. Sejak awal kami berkomitmen untuk dapat berbagi ilmu dan bertukar pendapat dalam upaya meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan lokal. Di samping itu, kami juga ingin berkolaborasi dengan Puskesmas Onembute dalam perbaikan manajemen puskesmas, promosi kesehatan, gizi, dan terutama kesehatan ibu dan anak (KIA) sesuai dengan permasalahan kesehatan yang dihadapi disini. Tidak hanya dari sisi puskesmas, namun kami juga ingin menularkan semangat kepada masyarakat Konawe untuk dapat berpartisipasi secara aktif dalam distribusi informasi terkait kesehatan. Dengan upaya-upaya kesehatan yang kami inisiasi, kami berharap Puskesmas Onembute dapat berjaya lagi seperti sebelumnya,” tambah Bd. Charity Hartika, anggota tim Pencerah Nusantara yang mengenyam Pendidikan Bidan, Universitas Airlangga.

Tanpa kita sadari, terkadang hal-hal yang menjadi panutan tidak selalu datang dari kota besar dimana akses pembangunan terlihat begitu memukau. Puskesmas Onembute telah membuktikan bahwa mereka mampu disebut sebagai panutan dari terobosan-terobosan yang dilakukan. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk keterbukaan dalam menerima tim Pencerah Nusantara, merupakan bukti kuat bahwa Puskesmas Onembute menjunjung komitmen tinggi untuk berkolaborasi menciptakan kehidupan lebih baik bagi masyarakat Konawe. Puskesmas Onembute adalah salah satu dari banyak potensi Indonesia di belahan timur yang berhasil menembus batas cakrawala pembangunan. Mari kita lanjutkan kerja keras untuk menciptakan pembangunan Indonesia yang merata dan berkelanjutan.



Ditulis oleh: Tim Pencerah Nusantara Konawe dan Yeyen Yenuarizki

Share this: