ARTIKEL

Atasi Soal Gizi sejak Dini
Thu, Aug 31st 2017, 13:42

JAKARTA, KOMPAS — Pendidikan anak usia dini berperan penting mencegah masalah gizi pada anak, terutama tubuh pendek (stunting). Stimulasi positif dan edukasi pengasuhan dari pendidik PAUD kepada orangtua dinilai berkontribusi positif terhadap perkembangan anak. Guru Besar Pendidikan Anak Usia Dini dan Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta Fasli Jalal mengungkapkan hal itu dalam seminar bertema ”Gerakan Nasional Perbaikan Gizi Anak Usia Dini” di Jakarta, Rabu (30/8). Saat ini, Indonesia termasuk negara anggota G-20, kumpulan negara-negara di dunia dengan kemampuan perekonomian yang besar. Sejumlah indikator pembangunan Indonesia secara makro dinilai membaik. Namun, untuk urusan gizi, Indonesia masih setara dengan negara-negara di Afrika, seperti Etiopia, Benin, dan Burundi, yang masih berkutat pada soal gizi. Indonesia menghadapi beban gizi meliputi tubuh pendek (stunting), tubuh kurus (wasting), dan obesitas. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harris Iskandar menyebutkan, tubuh pendek atau gagal tumbuh bisa terjadi karena buruknya gizi ibu atau anak. Tubuh pendek juga terkait praktik pengasuhan anak yang kurang baik, akses yang minim pada makanan bergizi, layanan kesehatan terbatas, dan akses air bersih yang kurang. Jika mengacu pada standar antropometri penilaian status gizi anak Kementerian Kesehatan, tubuh pendek ditetapkan berdasarkan indeks panjang badan atau tinggi badan sesuai umur. Masalah anak berusia di bawah lima tahun (balita) pendek menggambarkan ada soal gizi kronis. Hal itu dipengaruhi kondisi ibu atau calon ibu, masa janin, dan masa bayi atau balita, termasuk penyakit yang diderita saat balita. Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia 37,2 persen. Angka itu tidak lebih kecil daripada kondisi tahun 2010 (35,6 persen) dan 2007 (36,8 persen).

Produktivitas rendah

Fasli menyatakan, stunting atau gagal tumbuh adalah masalah amat serius. Selain berdampak pada kesehatan anak saat balita, gagal tumbuh juga berakibat pada rendahnya produktivitas anak itu saat dewasa dan menghambat kemajuan bangsa. Maka dari itu, guru PAUD diharapkan lebih peka terhadap anak didiknya. Contohnya, hasil penimbangan ditulis di Kartu Menuju Sehat. Saat menemui anak yang berat badannya tak naik selama tiga bulan, guru duduk bersama orangtua untuk mencari solusi dengan melibatkan tenaga kesehatan. ”Ingatkan orangtua untuk memberi pengasuhan lebih baik,” ujarnya. Fasli menilai, masih ada kesempatan membenahi kondisi anak pendek pada masa 1.000 hari pertama kehidupan. Bagi anak yang secara fisik pendek, asupan nutrisi yang baik, stimulasi, dan pengasuhan positif oleh guru PAUD membantu perkembangan kemampuan kognitifnya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menurut Harris, melaksanakan intervensi melalui PAUD holistik integratif untuk mengatasi masalah stunting. PAUD holistik integratif ialah upaya pengembangan anak usia dini untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling terkait secara simultan, sistematis, dan terintegrasi. Direktur Pelayanan Sosial Dasar Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Hanibal Hamidi menambahkan, soal gizi timbul tak hanya karena aspek kesehatan. Jadi, intervensinya diarahkan pada penguatan dan pemberdayaan masyarakat.


Sumber : Kompas

Share this:

VIDEO TERKINI

Nastional Youth Town Hall (Indonesia)

Nastional Youth Town Hall (Indonesia)